Sulitnya berkoordinasi dan sinergi, cooperative as strategic program
Sebuah prilaku yang baru yaitu bekerja sama dengan musuh besar, menjadi trend saat ini, malah ternyata saya telah membuktikan, memberikan result lebih baik daripada bekerja sama dengan teman, yang malah dalam bisnis, umumnya kompetitor yang paling berbahaya adalah malah teman kita itu sendiri. Lucu kan.
Malah dalam berwirausaha, musuh terbesar kamu adalah teman kamu, yang paling dekat, yang tahu semua kelemahan kamu dan juga mengetahui bagaimana kamu bekerja dari awal.
Sehingga sinergi dengan kompetitor yang segment berbeda, menciptakan sebuah segment baru, dimana ini disebut cooperative.
Yang lebih seru lagi, bilamana segment baru ini , ternyata adalah saingan kerja sama antara perusahaan rekanan dengan competitor rekanan kamu yang juga competitor kita yang sedang bekerja sama. wah ini kalimaat panjang dan jelimet.
Tentu saja prilaku diatas dapat dilihat bagaimana Nokia bekerja sama dg Intel, Intel dengan Apple, Nokia vs Apple, Google bekerja sama dg launch iPhone, dan Google Android vs Apple iPod/iPad/iPhone. Diluar dari Microsoft vs Apple vs Google vs Nokia - Symbian.
Jadi yang semua in cooperative environment, dan harus ada sebuah program kerja bersama, tanpa ini semua kita tidak akan naik ke level pasar terbaru.
Persaingan yang terpublikasi adalah yang memasuki benak calon pembeli, yang diharapkan menjadi penjualan, dan pertumbuhan.
Bandingkan dengan prilaku, subbing (menusuk dari belakang) yang sering kita dengarkan terjadi dalam praktik kita, tetapi juga konspirasi (bekerja sama) untuk membuat sesuatu deal terjadi. Ini adalah phase awal dari sebuah persaingan, teman yang mencuri idea, dan terus maju sendiri, adalah hal umum terjadi disekitar kita, malah kalau dipelajari lebih lanjut, itu adalah karakter yg umum dibeberapa tempat disekitar kita, makanya perilaku dan asal usul kita mempengaruhi. Berkonspirasi alias bekerja sama terhadap sebuah visi sehingga goal, juga hal lainnya. Tapi konspirasi umumnya berbeda dg kerja sama, ada unsur politik didalamnya.
Konspirasi yang kuat menciptakan oligopoli, yang dapat kita temukan dalam industri peternakan ayam, yang mana kebetulan ayah saya, dulu bagian dari industri ini, tetapi sekarang oligopoli ini telah dapat dibreak dengan lahirnya raja-raja ayam lokal, yang mana ternyata semua raja ayam lokal ini bertempur keras di Jakarta. Coba deh, kasus GAPPI vs Pengelola Ayam vs Mitra Ayam (ayah saya di area ini), menjadi kasus menarik. Juga bagaimana Wings yang memiliki industri bahan baku sabun, melawan Rinso dg So Klinnya, sampai ke Afrika. Setahu saya Unilever membeli bahan bakunya ke sang competitor ini loh, dan apakah ini yang membuat Rinso tidak jadi penguasa pasar lagi..
Jadi... apakah anda telah bekerja sama dengan musuh terbesar Anda, dan apakah Anda telah melakuan program "perang" melawan musuh Anda?
New Java like language after Google vs Oracle dispute, Java FREE campaign by James Gosling. an amazing PR of Google
a hot topic in Java Champions, about new language, which .NET failed to get, because people love Java. a dispute between Oracle vs Google, bring the community of OpenSource in an amazingly hot worries. Last 2 weeks all the topics always in this area.
this issue if not solve after JavaONE, that will be a push to create a new language , technology that smiliar to Java, but not Java.
the money of Java, of course may be can sustain the revenue of Oracle, but the FREEdom that we got in last 10 years will become a new push, and this issue will bring Java to become Cobol faster that my estimation.
Up to Oracle's management, wanna to become Java become a legend of human being, or a new thing show in the public, and Yakov said about "Google lead".
but in another side, James is asking everyone to wear "JUST FREE IT".

I can feel this is look like Monty's for his MySQL, asking EU to block it, and I believe EU will response this Java case also.
so, will GO become the next Java? because Google owns a lot of smart people, or.. will Oracle follow and make Java become the revolution of human being?
But I believe that GOogle's Public Relation team, did an amazing good publication, that the Google vs ORacle become like OpenSource Java vs Oracle.
U cannot fight ur own communities if u wanna make your product market leader, let's them endorse and promote by them self the product.
Bekerja dengan Subversion - Commit Project Eclipse ke Subversion
Berikut adalah tutorial bagimana mengcommit source code ke Subversion di UGForge, tentu saja, usernamenya harus terlebih dahulu terdaftar di UGForge.net
Untuk memulainya, harap lihat status SVNnya sudah aktif atau belum.

Bilamana ada tulisan "Initial Repository Skeleton" artinya sudah siap digunakan. Umumnya harus menunggu sekitar 2 jam setelah registrasi baru bisa commit.
Informasi URL Subversionnya dapat lihat di Access Info

Berikut adalah apa yang harus dilakukan untuk testing checkout, saya menggunakan console, harap SVN client terpasang yah.

lihat struktur direktory di komputer saya sama dengan yang di SVN kan.
Nah berikut adalah kita masuk ke Eclipse, saya menggunakan Spring Tools Suite, buat Dynamic Web Project.

Setelah project selesai, akan memiliki satu struktur di project eclipse anda.

Click kanan, dan terus cari Team > Share Project

Pilih SVN dari dialog yang muncul

Karena ini project baru, jadi pilih Create new repository

Masukan URLnya yang didapat dari Access Info

cari folder dimana kita hendak menyimpan source code kita, dalam kasus ini kita menyimpan di trunk

berikut adalah setelah memilih trunk sebagai target penyimpanan

Masukan initial information

Terkadang masuk ke Perspective Synchronization, tapi teruskan saja, lihat iconnya, kalau (+) artinya belum tercommit, alias code baru yang hendak ditambahkan.

Click Kanan dan Commit

Masukan informasi atau keterangan commit ini memasukan code apa saja

SElamat. anda telah berhasil mengcommit ke SVN

Lihat tulisan 2 di MANIFEST.MF, artinya ini commit ke-2, pertama adalah initial project, yang ini ke-2.
Pekerjaan ini dikerjakan dalam 30 menit.
TKJ ala Meruvian, seperti apa itu?
Banyak diskusi selama lebih dari 4 tahun berhubungan dengan SMK, dan ternyata RPL yang 4 tahun lalu adalah jurusan baru, sekarang sudah mulai banyak. Keahlian Meruvian dalam urusan Java yang merupakan cerminan dedikasi saya pribadi selama 10 tahun terakhir dan juga ternyata karena trend dunia terhadap Java sedemikian kuatnya, membuat Java bukan hanya semata teknologi, tetapi menjadi sebuah platform yang kuat yang menjadi rebutan banyak pihak. Sudah tahu .NET dengan bahasa C# lahir karena Microsoft dimejahijaukan dengan denda 2 billion (miliar) dolar, dan harus menghilangkan J# (Java) dalam produk visual studionya.
Sayangnya J# tidak OpenSource, tetapi propietary, dan kasus baru Android, yang mana telah OpenSource, dan dijamin akan memberikan ilham kebanyak orang untuk membuat derivative yang tahan kasus pengadilan Oracle yang sedang berlangsung.
Saudara sepupu RPL adalah TKJ dan MM, saya melalui blog ini membahas sebuah ceruk baru untuk TKJ, dimana kita tahu TKJ di Indonesia implementasinya macam-macan, ada TKJ dengan RPL didalamnya, hal ini dikarenakan TKJ adalah jurusan yang dibuat dari elektronika, mirip dengan Teknik Informasi yang turunan dari Elektro di beberapa kampus, tetapi dibeberapa kampu smalah dari FMIPA - Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jadi jangan kaget bilamana ditemukan ada jurusan yang "Ribut" merasa dirinya pakar TIK, padahal mereka lulusan dari 2 jurusan itu.
Kita sedang mempush agar adanya jurusan SMK SI (SIstem Informasi), dimana melihat semua hal dari sistem bukan dari infrastruktur ataupun pengembangan. Ilham ini datang saat berinteraksi dengan tim jardiknas yang notabene TKJ secara keseluruhan.
Dimana implementsi Jardiknas ternyata tidak semata membuat IP design, pasang server, routing, tetapi juga termasuk mengimplementasikan portal, sistem kolaborasi, malah berkolaborasi dengan jurusan tata niaga dan teknik industri mengimplementasikan sistem operasional yang sempurna.
Pemeliharaan sistem termasuk dalam scope magang TKJ di Meruvian, mulai dari install, setup, implementasi, upgrade sampai integrasi menjadi sebuah solusi yang lebih bernilai.
SEbuah sistem baru yang terintegrasi bilamana muncul, akan menjadi sebuah pekerjaan baru bagi tim RPL terhadap sistem tersebut, dimana mekanismenya akan semakin complex, dan memerlukan keahlian sistem bagi sang programmer, dan juga memerlukan pola pikir dinamis extensible bagi anak yang mengimplementasikannya.
My Agustus Roadshow
2. Nich schedulenya :
a. Tgl 27 Aug 2010, Jam 10.00 sd 11.00 : meeting dg ortu kls 1 RPL = 135 org, 1 TKJ = 120 orang
b. Tgl 27 Aug 2010, Jam 13.00 sd 14.30 : meeting dg ortu kls 2 RPL = 60 org , yang magang di jakarta (depok tanjung duren)
c. Tgl 28 Aug 2010, Jam 09.00 sd 12.00 : road show dan sosialisasi SKKD dan SPECTRUM TI dg audience kls 1 RPL = 135 siswa, kls 3 RPL = 120 siswa, guru TI = 15 orang
d. Tgl 28 Aug 2010, Jam 13.00 sd 14.30 : meeting dg ortu kls 1 TKJ = 135 org,
e. Minggu, 29 Aug 2010 , free
f. Senin, 30 Aug 2010, jam 08.00 - 11.00 di SMK N 6 Kota Malang
g. Senin, 30 Aug 2010, jam 13.00 - 15.00 di SMK N 1 Kota Blitar
h. Selasa, 31 Aug 10, jam 08.00 - 11.00 di SMK N 1 Kota Tulungagung
i. Selasa, 31 Aug 2010, jam 13.00 - 15.00 di SMK N 1 Kota Kediri
j. Selasa, 1 Sept 2010, jam 08.00 - 11.00 di SMK N 1 Kota Jombang
k. Selasa, 1 Sept 2010, jam 13.00 - 15.00 di SMK N 1 Kota Mojokerto
Membagi ilmu dibulan ramadhan, semoga mendapat berkat lebih.. amin.
Branding Case: Rakyat Indonesia dg Satria Bergitar dan Rakyat Java dengan TCK
Minggu ini adalah hari paling terberkati diseluruh dunia, terutama bagi orang Indonesia yang merayakan ulang tahun ke 65, kasus "narsis" terjadi di Indonesia. Ini kasus leadership paling menarik yang pernah saya alami dalam hidup saya, khususnya bagi kultur Indonesia yang mostly mengacu pada kultur jawa, walaupun ini bukan the only kultur yang ada. Kultur yang mirip dengan Asia, yaitu menghormati seniornya, dan beberapa kultur yang sangat menarik didalami.
Dimulai dari menyanyikan lagu SBY di acara kemerdekaan, dibagikan buku anak sulung SBY di acara kenegaraan, yang mendapat celaan (sepertinya celaan ini bukan yang pertama tapi dah lusinan.). Dimana di milis IGI (Ikatan Guru Indonesia), sangat hot, dimulai muncul istilah Satria Bergitar, sampai perbandingan level narsis presiden dunia dengan presiden kita.
Ini beberapa URL yang mungkin dapat jadi referensi.. (dikasih referensi biar lebih ilmiah)
Tempo dg gambar headline SBY bergitar
http://tempointeraktif.com/hg/politik/2010/08/18/brk,20100818-272089,id.html
Dan ini URL Presiden Zambia, Pierra Nkurunziza mengundang "orang-orangnya" untuk menari dan menyanyi bersama di lapangan sepakbola. Berapa banyak ? Lima belas ribu orang .... hehehe ....
http://www.zimbio.com/President+Pierre+Nkurunziza/articles/H5wN7yKXorV/Burundi+singing+president+marks+four+years
Berita lain, adalah saat Presiden Pakistan Pervez Musharraf menyanyi dan masuk ke Youtube. Beritanya ada di sini
http://thenextweb.com/2009/08/15/pakistani-president-singing-youtube-sensation/
Jadi mungkin memang menjadi presiden akan membuat semua orang menjadi narsis.. Walaupun presiden kita yang pertama merubah website resmi dan mempromosikan CDnya yang dijual dikota Anda.

Tapi blog ini tidak membahas SBY dan gitarnya, sebab itu bukan urusan saya dan bukan area of interest saya, hanya yah sebagai rakyat Indonesia, kecewa saja memiliki pemimpin seperti ini.
Nah ini isi blog saya, untuk sebagai perbandingan, tetapi intinya sama, leadership. Mari kita bandingkan Leadership SBY (jangan dg Obama lah jauh), tetapi dg Oracle yang sekarang memiliki Governing Java, bernama JCP dan Trademark. Kalau kita sambungkan, keduanya sedang mengembang citra. Dan 2-2nya sedang mendapat tekanan public yang kuat. Branding case menarik.
Nun jauh di ujung sana, tepatnya di Pengadilan San Jose, California, sedang ada sebuah kasus mengenai pelanggaran paten dan hak cipta Android terhadap Java oleh Oracle ke Google.
Oracle sejak lama aktif di JCP (Java Community Process), dan juga konon salah satu yang mengajukan TCK untuk teknologi Java bukan buatan Sun, sekarang dengan Java menjadi miliknya, dan komunitasnya yang 9 juta, serta model Java yang seperti negara. Otomatis CEO pemiliknya itu seperti presiden. Tenang di dunia Java belum pernah ada kasus menyanyi, jadi level narsisnya berbeda jauh dengan kasus diatas.
Oracle sedang diuji kepemimpinannya, dan tekanannya adalah kalau secara global komunitas tidak menyetujui, akan terjadi fork besar-besaran Java, artinya kalau model pencitraan SBY buruk, akan ditimpukin gitu kurang lebih, tapi ini fork Java lebih dahsyat, sebab semua investasi selama 15 tahun di Java akan menjadi sejarah, mirip IBM PC, dan akan tinggal kenangan. Tapi both parties, akan jadi sejarah. SBY akan jadi mantan presiden, dan Oracle akan jadi mantan pemilik yang menguasai Java (Sun telah menjadi pemilik Java, tetapi dia diakusisi bukan Javanya di fork).
Senior Java-man, seperti Jason Hunter yang a/n Apache dulu protes mengenai mekanisme JCP, adalah orang yang membuat kita dapat menikmati governing model JCP. Ada Joshua Bloch yang merupakan Chief Java di Google (yang membidani Android), juga muncul. Sepertinya dalam beberapa saat orang Harmony (Geir Magunson) muncul. Kalau ini muncul. milis Java Champion akan menjadi pusat dari semua opini ini berawal. Saya yang kebetulan terpilih dan ikutan milis tertutup jadi dapat melihat bagaimana tim Oracle mengumpulkan koleksi, menjelaskan mengenai JDK7 yang unrealistic, serta kasus TCK, OpenSource, dan standarisasi.
Intinya keadilan Java sebagai aset semua orang sangat terasa disini. Semuanya seperti merasakan kok gini sih, dulu gitu.
Rakyat Java itu ada 9 juta, dan hampir 60% solusi enterprise menggunakan Java, dan 80% di Indonesia semua telepon genggam memiliki Java, mulai dari BlackBerry, HP-HP lokal dari China, dan Android, serta hp-hp luar dari Nokia, Samsung, LG, SonyEricsson, sampai Motorola baik yang versi Droid ataupun yang jadul.
Rakyat Java sedang memperjuangkan kemerdekaan dan sedang memanaskan kasus lama yaitu mengenai OpenSource Java, secara total dan standard dan compatible. Mirip dengan Rakyat Indonesia yang sedang mendapatkan tekanan dari pemerintahan sekarang yang tidak pro rakyat (silahkan baca hasil pidato presiden kita di hari kemerdekaan).
Semoga Oracle dapat mengambil keputusan, dan kasus meja hijau Oracle ke Google, dapat menjadi biaya yang dapat digunakan Oracle untuk membuat Java benar-benar total Open. Walaupun caranya sangat sarkastik, mirip sekasar presiden kita menjual CD di website kenegaraan, mengumandangkan lagunya di acara kemerdekaan, dan membagi buku anak sulungnya di acara kemerdekaan (tapi sampai hari ini buku anak sulung belum muncul di website kepresidenan nih)... Everything about power and money!!!
Ini 2 kasus menarik secara branding, dan kita mulai melihat pentingnya persepsi. Oracle sangat hati-hati membuat brand, sampai semua hal harus merah dengan logonya. Kasus Java ini juga menarik, dan Google telah berhasil menggiring kasusnya menjadi kasus kenegaraan Java dengan membawa simpati semua programmer Java, termasuk saya. Walaupun secara langsung dan setelah didalamin program pencitraan Android yang bukan Java, tetapi "menggunakan" komunitas programmer Java adalah sangat buruk. Mirip dengan kasus SBY jualan CD di website kenegaraan.
Kita berharap nanti akan muncul JavaDroid Edition, sebuah spesifikasi yang lebih rich dari JavaMe dan lebih simple dari JavaSE. Segment ini dulu disi oleh Java Profile, tetapi perkembangannya tidak jelas. Sepertinya James Gosling tidak gitu tertarik dengan area ini, sehingga ini area membuat Oracle kehilangan uang banyak, disabot oleh Android.
Kita yang di komunitas Java sedang berusaha ini tidak terjadi, karena kasus Android ini merugikan kita bangsa Java, dan juga kasus Oracle membawa paten juga merugikan kita sebagai bangsa Java.
Mirip dengan kasus pencitraan SBY yang merugikan kita sebagai Bangsa Indonesia, dan apalagi dicampur dengan kasus diamnya terhadap banyak kasus, termasuk penangkapan patroli oleh Malaysia di area Indonesia. Ini sebuah kasus yang sama, dimana kebetulan saya adalah rakyat keduanya..
Hebat kan, 2 negara yaitu Indonesia dan Java memiliki kasus pencitraan, dan menarik dikaji. Sebagai tambahan Java itu merk produk digital, dan di Indonesia ada pulau Jawa dan sudah tahu orang Jawa di Indonesia adalah mayoritas penduduknya. kasus menarik kan.
Action apa yang hendak Anda lakukan terhadap dua hal diatas?
Art Nego dan Dealing dalam dunia OpenSource.
Sebuah diskusi kecil di linux-aktivis, milis yang sudah lama tidak saya reply, gara-gara sebuah pertanyaaan bisa gak pemakai BB melakukan top posting, dijawab dg congkak, lo keluar aja sana. Kesannya the movement no need us anymore. Community building yang baik, tapi yah ini dimaklumi karena gerakan komunitas di negara berkembang, yang mostly all of us is not mature, semua emerging kan. Dari hukum sampai pendidikan, jelas lah. Mengorbankan hubungan untuk sebuah syarat. Inget kata-kata di JUG, jangan lihat cara dia mengatakan, tapi isi dari contentnya. ERa sekarang Content is king.. :0
Tapi kalau kita yang suka melihat dari sisi strategis dan pasar (ini comment Irwin di FB saya mengenai kasus diatas), ini menarik, bagimana kalau kita melupakan hal nonsense dan masuk ke era yang lebih didepan dan lebih straegis, akan semakin menarik. Adakah God Father Mafia yang peduli dengan cara membacok atau memalak dari anggota gangnya, yang dipikirkan adalah berapa yang didapat dan bagimana program kerjanya. Infantri yah infantri.
Sekarang di benua Amerika sedang terjadi deal business yang besar, diestimasikan denda bisa US$ 10 billion, hanya untuk sebuah produk opensource, dan ini diatas dari deal yang lainnya, Spring Source 300 jt dolar, Zimbra 300 juta dolar, Jboss juga sekitar 400juta dolar.
Artinya OpenSource deal telah memasuki era billions, tentu saja ini 10x dari nilai pasar MySQL, dan tentu saja ini barang gila baru 5 tahun bandingkan dg MySQL yang sudah hampir dua dekade.
Ada ide berapa distro Linux dihargai kalau di jokul tanpa modifikasi, Andrioid ini contoh yang sama dia distro linux tetapi ada teknologi yang menggiring komunitas Java milik Oracle sekarang, masuk ke area ini.
Jadi ini keren banget tepatnya, apalagi saya suka dg Android karena ada fitur yang sama dg ipHone dan BB yaitu mendukung sqllite dan terintegasi dengan semua aplikasi yang ada didalamnya, seperti sebuah platform yang terdiri dari library yang lengkap.
Tentu saja semua ini harus bisa ikutan meramaikan kalau bisa dan sudah memiliki volume market yang diambil, dan mengapa pola kerja Meruvian sekarang sukanya massive, karena kita di area ini. Kalau 10 orang yang join, ini bukan the game, the game will become interesting kalau berubah menjadi seperti Age of Emprire atau StarCraft II (beuh saya belum main ini game).
Buat tim Meruvian yang baca, nah semoga blog ini menginspirasikan, mengapa saya mengajak kalian semua melihat dari sisi lain, This is the side.. get it or die, seperti kasus Android, kalah dipengadilan, mm bisa mati Google, kena denda 10 billion dolar, coba kalau ditagih /tahun. makyus.
Tapi dia juga ada power, sebab itu dah diatas iphone penjualannya, dan ini artinya Oracle jgua gak mau kehilangan ini semua kan.. so Deal Bisnis terjadi, untuk kedua belah pihak. Diarea deal seperti ini, saya masih kurang ahli.. tapi konon geretakannya sudah mulai katanya. kita lihat deh.
Deal Bisnis ini mirip dg Deal Pemerintah kita, semoga pemeirntah kita ada yang baca blog ini, dan mulai menikmati deal ini, bukan kalah didepan dan main kasih gitu aja, kesannya kita ini kambing, harganya yah segitu.
Keamanan Berinvestasi di era Oracle vs Google
Minggu ini mungkin rekan-rekan yang posting di FB, agak melihat posting saya dari cela pemerintah menjadi membahas legal Oracle vs Google. Memang masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan, tetapi ini kasus sangat penting. Sebab didunia Java, JVM itu hanya mungkin 0.1% dari solusi yang kita pakai. Tetapi JVM adalah inti dari semua ini, tanpa JVM tidak dapat berjalan.
Dan kita tahu JavaME sangat tidak bagus untuk serious development, terutama di Enterprise market, itu karena Persistance Recordnya sangat buruk. SQLite yang di embed kedalam Android menjadi saya sangat suka Android, dan tentu saja kita tidak perlu membuat aplikasi ini ulang, dan banyak vendor yang menggunakan Android, mulai dari SonyEricsson, Motorola, Samsung, HTC, Huawei, sampai merk tidak jelas.
Kita melihat ada kelemahan di Android, tetapi juga sebuah keuntungan, yaitu harus mendaftarkan diri kita ke Google, dan saya belum tahu mekanismenya, sedang belajar, model ini kelemahannya membuat kita tidak bisa semau dewek menginstall Android ke piranti keras kita, dimana saya memasukan hal ini sebagai prioritas awal. Lisensi Apache dari Android yang membuat ini semua bermasalah bagi kita semua, sebuah pekerjanaan rumah baru buat penyedia program.
Kasus Google ini menarik, sebab Google membuat Java-like technology yang mengharuskan kita mengcompile ulang class Java untuk dapat berjalan, ini seperti menjalankan XLS di OpenOffice, tapi mekanisme ini dianggap ilegal, dan makanya kasus Oracle vs Google terjadi.
Kasus ini bisa menyeret banyak pihak, kalau kita lihat modelnya, tetapi hanya terjadi di dunia yang mengimplementasikan paten software, dimana Indonesia tidak termasuk, dan semoga pemerintah tidak kesember geledek melegalisasi software paten. Tapi kita tahu pemerintah kita tidak jelas maunya apa, dan kita tidak ada kekuatan yang dapat menggulingkannya kalau dia macam2, ada ide? Kasus Pemerintah Indonesia dg Oracle itu mirip loh. Oracle adalah pemilik pemerintah Java bernama JCP. Makanya kasus Google ini menarik perhatian saya.
Kasus Google vs Oracle, membuat benak saya berpikir keras selama 2 hari ini, apakah Java adalah investasi yang aman? Sama dengan cara kita berpikir, apakah investasi usaha di Indonesia aman? Kita tahu dengan pemerintah seperti ini, saya sangat tidak percaya keamanannya, tetapi ada ide tidak buka usaha di Indo, di negara aman, dengan level kemampuan seperti saya.
Kasus ini menarik, Oracle = Indonesia, both make me annoying, tapi saya tinggal di Indonesia dan saya menggunakan Java dengan pemilik baru Oracle.
Secara Maslow kita kan membutuhkan keamanan, dimana kasus Oracle vs Google membuat kita harus berpikir 2x menggunakan apapun, apalagi semau teknologi sekarang sedang kovergen ke era Cloud, artinya semua akan kena nih, wong Java itu virtualization tech, Cloud juga virtualization tech. Di Dunia serba Gratis dan Opensource, gak lucu kan dah cape2 investasi tahu-tahu musti bayar, dan ini terjadi di Industri CD, setiap playernya ada paten.
Salut sama china yang dapat memblok paten ini, konon hanya pabrik yang membuat CD player ke amerika saja yang bayar paten ini, tetapi tidak untuk negara lain, ada yang bisa confirmasi kasus ini.
Jadi saya pengen tahu MTK kan mendistribusikan JAvaME, apakah dia membayar loyalty ke Oracle?
Saya melihat kasus CD Player ini seperti orang yang gak mau bayar pajak aja, huahua.. bukan kita semua di Indonesia suka dengan double book, padahal saya sendiri mendapatkan beberapa pembukuan berbasis Norma.
semua pattern diatas mirip.
Semoga saja pemerintah indonesia gak buta urusan gini, apalagi diera pemerintah yang tidak jelas sekarang..
TKDN PP No 54 / 2010
Baru keluar PerPres no 54 th 2010 mengenai tender, harus kandungan lokal >40%
berikut diagramnya, thx pak khalid for the url

Malaysian Trade, dari Jerman ke Malaysia, dari Cimande ke joget..
Minggu ini ada kejadian menarik buat kita semua, yaitu kita meeting dg pihak joget di kantor Matrade, Kedutaan Besar Malaysia untuk External Trade.. Sam (VP training Joget), bangga sebagai program kegiatan di pemerintahaan malaysia, first export event tapi barangnya gratis.

Silahkan lihat tulisan diatasnya.... Kedutaan Besar Malaysia

foto dibelakang tulisan MATRADE...
foto diatas menjelaskan sejuta kata kan.. kapan kita yang di Indonesia dapat menggunakan kantor kedutaan besar Indonesia dan kantor tersebut membantu kita untuk mempromosikan produk dalam negeri.. ada yang punya channelnya?
Yang menarik dari joget ini adalah, joget mengimplementasikan XPDL salah satu spesifikasi dari WfMC, dan enginnya dikembangkan oleh Together dari Jerman kalau tidak salah, di host di ObjectWeb, http://www.ow2.org, dan dipercantik oleh tim OpenDynamic (perusahaan dibelakang Joget), kemudian direlease kembali ke opensource .. wong harus, kan lisensinya musti
nah ini link dari Shark dan JaWE, agak aneh ini proyek, dari objectweb, ke enhydra, terus ke together.at.
ada yang baru dari Together, yang membuat enginenya, yaitu Outloook inbox...
silahkan lihat sendiri dan coba2
http://www.together.at/prod/workflow
dan informasi lebih lanjut mengenai XPDL yah silahkan ke http://www.xpdl.org atau ke http://www.bpmn.org
Mengenai Joget seperti apa silahkan ke webnya, tapi yang saya interest adalah JSON producer dari Joget, yang kita sedang integrasi dengan cimande as cimande services tentu saja, dan tunggu code cimande module untuk akses ini semua..
Selain itu, ini source code cimande 0.95, yang memasukan Shark kedalam cimande.
http://cimande.svn.sourceforge.net/viewvc/cimande/tags/0.9.15/WEB-INF/conf/
Lulusan SMK Tidak Magang di Industri dan Pengalaman Pengelolaan SMK
Bulan ini Meruvian kedapatan anak lulusan yang belum magang, tetapi ada yang masuk kategori magang, karena sistem 3+1 di SMK-nya. Umumnya kita memberikan incubasi selama 3 bulan sampai 6 bulan, tergantung kemampuan anaknya, ada yang diberi uang saku atau yang harus menanggung sendiri.
Pengalaman mengelola anak SMK, kami mendapatkan bahwa beberapa anak yang telah magang, walaupun tidak memiliki performance yang bagus alias dibawah standard minimum Meruvian, ternyata di perusahaan dapat mengerjakan pekerjaan yang diberikan, tentu saja kerjaan adalah membuat aplikasi bukan mengembangkan kernel MVC.
Setelah 2 tahun umumnya untuk anak yang memiliki komunikasi baik, akan dapat mengembangkan kernel MVC, walaupun hanya anak khusus yang dapat menyelesaikannya dengan tuntas.
Umumnya anak yang tidak pernah bersentuhan dengan Meruvian, tetapi pernah magang, akan mendapat "komplain" dan minta replacement dari pihak client, ini artinya "Buruk" untuk kita semua. Walaupun ada beberapa client memaksa karena sudah mendapat proyek, jadi anak baru 1 bulan saja diambil.
Umumnya anak yang lumayan akan dapat beradaptasi setelah 3 bulan, tetapi tentu saja belum bisa mandiri dan setiap baris pekerjananya harus dimonitoring oleh seniornya. CIlakanya kalau mendapatkan senior yang tidak dapat berkomunikasi, harus ada team leader yang mengontrol semuanya. Maklum Indonesia adalah negara SC dari DISC yang konon sampai 70%.
Untuk anak yang memiliki jiwa domian, bilamana telah mengerti dan dapat mengerjakan pekerjaan dengan baik, harus diedukasi untuk ilmu team work dan khususnya manajemen proyek. Sebuah gap baru antara experience dan template programmer gap terbentuk, dan ini sebuah missing emotional disorder baru terjadi.
Sayang sampai saat ini, walaupun kepercayaan muncul, sangat sulit mencari sebuah kultur pemahaman adaptasi manajemen, sehingga diperlukan pembiaran sampai terjadi pengalaman pribadi yang diharapkan, bilamana pengalaman itu tidak terjadi, sebuah jalan ditempat terjadi.
Nah itu pengalaman kita berhubungan dengan SMK, yang lebih cilaka adalah untuk beberapa SMK yang kita kelola, yang memiliki aim dibawah dari inovasi yang kita kembangkan, seperti maunya kerja jaga toko, kerjaan kasar seperti angkat barang, atau tarik tarik kabel secara fisik. Kebanggan virtual masih perlu edukasi lebih lanjut, terutama bagaimana jiwa menilai sebuah value dari sebuah pekerjaan yang non fisik, ini sangat sulit terjadi.
Maklum bukan hanya mereka, ortu saya saja masih mengatakan itu walaupun tahu anaknya telah 15 tahun berwirausaha disana.
Business PRocess, Workflow and ISO 9000
10 tahun yang lalu, saat saya masih bekerja di Makin Group, ada satu perusahaan yang menjadi konsultan untuk sertifikasi ISO, bernama AABC (Arthur Andersen Business Consulting), masuk memperkenalkan ISO 9001 untuk satu subidiarynya yaitu Indoraya Everlatex, pabrik sarung tangan atau glove dengan pasar export.
Menarik sekali, pengalaman utama yang didapat adalah melihat bagaimana memetakan prosedur perusahaan menjadi satu dokumen yang diberi nomor, dan akhirnya diapprove. Kurang lebih tahun 1997-an. Dengan PIC proyek ini adalah Pak Hengky Gosyanto, sang direktur Indoraya. Yang mana saat itu saya masih baru masuk.
Tidak terasa 13 tahun kemudian, pekerjana itu masih melekat, dan setiap implementasi apapun yang berhubungan dengan sistem yang ada saya-nya, pasti ada SOPnya, mulai dari implementasi ERP dengan Oracle E-Business Suite, dg kode BR101, sampai standard pengembangan BlueOxygen saat ini, menggunakannya. Berikut adalah contoh proyek Blackhole yang kita buat bekerja sama dengan rekanan kita yang focus di EGov, lihat halaman 7.
Malah implementasi ERP kita yang Compiere ataupun Adempiere pasti deliverablenya SOP.
Nah sekarang ada yang menarik, yaitu jargon baru BPMN, yang dikembangkan oleh OMG, dimana disisi lain ada WfMC yaitu Workflow Management Coalition yang membuat standard XPDL. YAng mana XPDL akan jadi serialization notation untuk BPMN.
BPMN saat ini masih 1.0, tetapi 2.0 sudah beta, dimana ini kerja bareng BPMN dan WfMC. Saya sedang mencari juga standard ISO untuk sertifikasi kalau menggunakan notasi ini, dimana yang jujur saja ini super ribet.
Beriut adalah diagramnya

disisi kiri umumnya adalah role dan departemen dari SOP yang kita inginkan.
kalau ditilik balik ke pengembangan sistem, kita setelah MVC alias pembuatan Form, kita harus ada usermanagement, role management, sampai organization department, nah flow diatas untuk role saja.
Jadi nanti dikelompok-kan secara terpisah kalau berbeda organisasi.
Sudah coba BPMN? silahkan coba banyak aplikasinya mulai yang opensource dari intalio (commiter untuk BPM Modeler Eclipse), sampai yang gigantic lengkap dibawah Oracle BPM Suite.
Tips lainnya jangan lupa untuk membuat sumber approval bukan satu sistem tetapi intersistem dengan BPEL.
Sistem sekarang complex kan. tapi semua terlink.
Mengerti Pendidikan dan Mengerti Industri dan Merasa Mengerti Semua
tidak terasa sudah lebih dari 4 tahun berhubungan dengan pendidikan, dan area yang malah tidak direncanakan dalam 10 tahun saya buka usaha TIK. Malah ini area yang tidak pernah saya rencanakan dalam hidup, planning dari SMA saya adalah exodux, jadi kalau ada test kebencian negara mungkin saya bisa masuk top score.
Yang terjadi kok makin hari malah makin jadi seperti manusia yang peduli negara ini, saya sendiri tidak tahu kenapa, apakah ini garis tangan atau tekanan hidup.
Kata Link and Match diinisasikan oleh mantan mendiknas kita, Wardiman Djojonegoro, ini juga saya tahu dari Pak Tjetjep, pas kirim anak magang ke Meruvian.
Ternyata Link and Match ini seperti 2 dunia kelam dari kang ouw yang sangat berkuasa yang memiliki ego dan dunia yg berbeda pola pikirnya, yang lebih menarik lagi ada orang yang memiliki dua kaki, yang merasa mengerti semua ini, sayang saya gak punya data seberapa gede ini orang yang mengerti semua ini dari sisi sebenarnya. Kalau mengacu pada Al Reis, brand akan kuat kalau kita focus diawal, tapi kalau mengerti semua, focusnya kapan. Saya sih malah curiga orang yang mengerti semua ini yang menyebabkan kekelaman pendidikan negara ini. Lulusan S1 kita masuk kategori gamer daripada calon insiyur.
Struktur pendidikan SMK, baru saya dapat sebuah sinar, saat ikutan tim BSE, dijelaskan pak Onno W Purbo, termasuk juga kerasnya masuk ke diknas, saya jamin sekeras dinasti Tang, yang kejam. Jadi jangan tanya struktur S1 atau Dikti di Diknas, saya masih gak tahu siapa dan musti gimana. Mungkin saya harus professor dulu baru bisa, maklum di dikti, gelar lebih penting daripada ilmu, tapi berbeda dengan pola SMK, yang welcome bilamana kita ini dari industri. Jadi inget dulu diusir saat LKS di Jl. Rajiman BAndung oleh pak Kadiknas, padahal saya dengan Budi dari Sun Indonesia mau share.
Nah untuk mempermudah ngelink dengan industri dan juga memudahkan ngelink dengan pendidikan, saya membuat satu diagram, dan ternyata bangga juga bisa dibilang translator. Lihat saja pola pikirnya satu produk based satu lebih ke jurusan, malah product based ini juga ada stacknya, mulai dari peranti keras sampai solusi industri yang sangat spesifik.

Diagram ini menjelaskan kelemahan sekolah yang kerja sama dengan vendor asing yang tidak memiliki manager untuk urusan kurikulum secara detail, selain orangnya sulit, juga ilmunya sulit. Sehingga karena tidak ada orang ini, entitas yg kerja sama dengan vendor asing, mostly seperti bayar untuk pasang logo, nah saya mencurigai ini yang membuat step awal kekelaman pendidikan, karena kerja sama dengan vendor asing seperti membeli cap asing, tapi indicator anaknya gimana tidak ada.
Padahal manajer pendidikan dibutuhkan untuk membuat pendidikan kita mengerti yang terjadi di industri, dan juga mengerti gimana diperlukannya SDM di industrinya termasuk pemetaan skillset, sampai buat soal ujian. tentu saja kalau ini mengacu pendidikan pada product based bukan academia semata.
Saya melihat dengan adanya internet, orang yang mengerti semua termasuk endanger species, alias harusnya punah, apalagi belajar satu area dari secara end-to-end saja, perlu komitment diatas 8 tahunan (saya mendapatkan angka ini dari pemilik apotik "Jadi" di topaz yang telah terbakar di grogol sana), malah dibilang harus 10 tahunan. Jadi bagi yang baru 1-2 tahun sudah merasa tahu, kelaut deh lo.
Petuah pak Djarot, Sigma, mengenai kalau terlalu masuk ke pendidikan akan jadi terlalu sosial, terjadi sekali disini. Karena kalau kita mengkomersialkan pendidikan, indicator berubah dari keahlian menjadi uang, ada yang tahu kalkulator mata uang yang inputnya adalah ilmu? 10 ilmu = 10 juta.. gak bisa kan, gara-gara ini makanya kita tidak bisa memberikan berapa sih harga sebuah ilmu, sebuah amazingly intangible value. Tapi biasanya ada kesepakatan untuk minimu, disebut UMR, Upah Minimum Regional.
Tapi trend Java selama 1 dekade ini, membuat gaji lulusan S1 selevel ASEAN, padahal kita tahu pasar TIK kita terburuk di negara ini, khususnya area yang piranti lunak. Tragis kalau dibandingkan dengan negara maju, yang value TIK piranti lunak beberapa kali perangkat keras. Jadi ini negara adalah negara yang melihat piranti keras seperti mainan anak-anak, dibeli terus, tapi diutilisasikannya rendah, alias seperti gadget. Padhal gap industri yang kecil di Indonesia dengan harga diluar ynag tinggi, sebenarnya peluang, untuk tetap di Indonesia dan go global. Tapi tentu saja ekosistem kita ancur2an disini, internet byar pet, lelet, tapi dibanggakan termurah, terus jalan bolong. Tapi banyak yang sukses juga loh, tapi gak bisa massive. Akibatnya kita menjadi pedagang semua, dan ini akar lainnya dari kekelaman semua hal ini, pedagang adalah usaha yang gak pernah rugi, dan gak pernah susah, wong yang buat orang lain, dia hanya jadi calo kiriman saja, ini yang membuat produk tanpa riset kita sangat jarang. Membuat link and match sedikit pusing, ini kita ngelink dengan negara tetangga atau dengan lokal area, dimana SMK kan diharapkan dengan sekitarnya. melenceng lagi deh.. ding ding..
Tapi dengan progress yang baik di SMK, juga dengan susahnya SDM di industri, sepertinya suatu hari harus terjadi sepahaman, dimana sisi kiri (industri) dan sisi kanan (pendidikan) harus duduk bareng. Kapankah itu?
Private Content ala BBM dan Apple.. tapi.. SDK?
Beberapa waktu ini saya rajin banget ketemu dengan vendor hp merk lokal, dan mulai mendapatkan banyak informasi dengan adanya JavaME di dalamnya, dan beberapa mulai mengeluarkan Android phone dalam seri produknya.
Sayang sekali untuk telp genggam lokal ini sepertinya masih didrive oleh perusahaan chip besar dan jiwa pedagang didalamnya, sehingga coba ke webnya, mulai dari Nexian, Skybee, IMO, sampai ht, semuanya gak menjelaskan teknis spesifikasi dari produk mereka. Bandingkan dengan Nokia Forum yang menjelaskan API dari telpnya, dan sepertinya para manager marketing yang mungkin ditekan sales daripada branding, harus belajar isinya telp mereka. Malah belum menemukan SDK khusus dengan emulator di webnya, malah tidak ditemukan satu web pun yang memberikan informasi bagaimana memasukan telepon mereka, sebuah aplikasi yang kita kembangkan.
Malah yang menarik Skybee milik trikomsel, salah satu distributor HP merek lain, bergabung inTouch, yang dulu terkenal karena mengelola Nokia Communicator dengan produk Mobinity-nya. Saya belum mendalami ini mobinity mau jadi apa. Nexian menghadirkan Nexian Messenger. Yang saya rasa akan lahir juga model ala seperti ini, yaitu ala Apple dan BlackBerry, jadi menyiapkan semuanya mulai dari barang fisik sampai piranti lunaknya.
Booming mobile di Indonesia, sayangnya tidak paralel dengan perkembangan developer, malah masih terjadi developer yang teriak-teriak dengan karirnya, sehingga topik dimilis Futsal member JUG Indonesia di Kuala Lumpur, sehingga terlihat orang IT masih jadi generasi kelas dua diperang mobile ini. Saya ingat pesan Calvin (salah satu pemilik elasitas), yang mana kita harus dibeli, untuk bisa go global.
Maklum Java telah jadi solusi mainstream di telepon genggam, apalagi perang antara produk yang memiliki Java, yaitu Android (menggunakan bahasa Java untuk pengembangan), BlackBerry menggunakan JavaME yang dimodifikasi digabung dengan JavaSE, dan JavaME itu sendiri yang notabene versi 3.0nya tidak ditemukan pada telepon genggam disemua telepon genggam. Apalagi sejak Sun dibeli Oracle, tidak ada kegiatan JavaME yang jelas, malah James Gosling di push untuk mengurusi Java di sisi Client, eh malah resign.
Malah kata VP Telkomsel di ICT Forum untuk Mobile, masih mengiang mata saya, mengenai keluh kesah Kemal (pemilik Better-B), serta jawabannya mengenai anak SMK yang notebene telah go ASEAN dengan JavaME. Link yang jelas antar SMK yang notabene belum diterima industri, malah masih banyak kasus mereka sulit mencari kerja, apalagi saya sendiri telah ikutan didalam SKKD, sebagai standar pendidikan SMK untuk 2011, yang oktober ini semoga pak menteri diknas meresmikannya.
Dengan model private development ala inTouch dengan Skybee, dan tanpa SDK untuk Skybee, apalagi integrasi dengan IDE, ini berbeda jauh dengan vendor diluar yang selain memiliki pabrik chip (Apple), sampai memiliki IDE (XCode), juga terjadi di Nokia dengan Symbian.
Masukan dari teman saya, mengatakan usaha biz telp merek lokal lebih menarik, karena keuntungan yang lebih besar daripada jualan telp merk asing yang dipatok keuntungannya, apalagi telepon sejuta umat.
Tapi kalau kita lihat semuanya, mereka masih jauh dibawah Nokia, yang sedang karam, karena produknya tidak friendly, apalagi dengan trend mobile market, saya rasa semuanya nanti akan buat Nexian Market, Skybee Market, karena tekanan industri, menjadi digital mobile services. Saya tidak terbayang uang yang dibuang untuk investasi ini sebab mau lari kemanapun kontrolnya ternyata dipabrik chipnya. Hal ini terjadi untuk produk yang lebih open dikembangkan Android, yang mana infromasi membuat firmware sendiri sangat sulit, tetapi jauh lebih stabil. Penulis telah mengembangkan aplikasi di Android 2.2 dan di deploy di 1.6 ternyata bisa jalan. Maklum belum mengutilize fitur khusus Android didalamnya. Hal yang sama terjadi juga di telepon JavaME lokal, tentu saja tanpa implementasi API khusus, seperti SATSA.
Jadi pasar mobile API buatan kita-kita sepertinya masih sangat jauh, yang pasti trend konsolidasi sampai masuk bursa menjadi alasan utama, dan apakah perusahan-perusahaan ini diciptakan untuk dijual kembali?
Buat kita kita para developer, peperangan ini ternyata belum membuat kita jadi tertarik, dan sepertinya kedua belah pihak harus saling mengedukasi, lucu juga programmer kasih tau ke pemilik merk, eh produk Anda bisa dibuat software lo. Tapi cara distribusinya masih sangat traditional, yaitu via download dan install sendiri. Saya sedang mencari Content Provider yang membuat Marketplace ini, sebab selama satu dekade ini juga seperti badai, tumbuh dan tidak berkembang. Ditunggu mobile services yang lebih funky untuk ini semua. Mungkin ada tapi tidak sampai ke mata saya.
Jadi secara garis besar, para perusahaan telco juga tidak concern sama programmer, dan mobile lokal juga, semuanya masih seperti installer dan implementer. Sudah coba Sprint IDE yang merupakan extension dari Netbeans, dan juga API khusus telp keluarannya. Maklum implementasi bundle telepon dengan layanan pulsa sudah hal biasa, tapi segment ini tidak ada.
Untuk pasar ideal jadinya, semua telco harus membuat IDE, dan endorse produk IDE ini ke market, hal yang dilakukan Sprint di JavaONE, atau Motorola dengan MotoIDEnya.
Kalau ini terjadi, selamat datang di RUSH 2.0, untuk para programmer Java, karena artinya kebutuhan programmer Java akan meningkat lagi, apalagi sekarang orang bisa Java dikit sudah dibajak, yang menarik malah yang memelihara programmer Java di Indonesia mulai go regional dan memasuki pasar, salah satunya Indonesia.
Ini juga kasus mental, wong pasarnya lokal, tapi kenapa harus kerja di luar negeri, yang mana perusahaan itu memasuki pasar kita juga. Aneh tapi nyata terjadi di negara ini, maklum level enterpreneurshipnya jeblok, dan pemerintahnya sangat tidak mendukung, mendukung program pemerintah seperti foya-foya penuh seremonial tanpa tujuan.
So, kita mau kemana setelah ini? membuat semua untuk dijual bukan untuk memimpin.
Android di Pasar Java, bersaing dengan siapa?
Android has been all over the Jakarta city. Coba keliling seputar tol dalam kota Jakarta, ada iklan mulai dari SonyEricsson Xperia, dilanjutkan dengan merk lokal Nexian Journey A890, disekitar grogol dari pluit ada iklan Samsung Galaxy S.








